Pacu Itik (Budi Ramadhon)

Tradisi Pacu Itik di Payakumbuh telah dimulai saat petani Aur kuning dan Sicincin menghalau itik yang memakan tanaman padinya ratusan tahun yang lalu. Saat dihalau, itik tersebut terbang rendah di sawah. Inilah yang menjadi awal dimulainya lomba pacu itik. Sebelum dilombakan, itik-itik dikurung dan diberi makan padi dan telur. Setiap sore itik-itik dilatih di tengah kampung.

Terdapat tiga tingkatan jarak yang dilombakan. 800 meter, 1600 meter dan 2000 meter. Pemenang ditentukan berdasarkan itik yang terbang lurus dan ketepatan menginjak garis finish. Peserta yang mengikuti pacu itik ini tidak hanya dari kalangan orang tua, namun anak muda dan anak-anak pun ikut memeriahkan perlombaan tradisional ini. Dan pacu itik ini memungkinkan orang-orang sekitar lintasan untuk bertaruh.

Perlombaan ini digelar di sebelas gelanggang yang berbeda di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota. Gelanggang tersebut antara lain Aua Kuning, Tigo Balai, Padang Cubadak, Tunggul Kubang, Padang Alai dan Bodi Aia Tabik.

 

Foto dan teks : Budi Ramadhon

Budi Ramadhon fotografer asal Sarolangun, Jambi, yang sedang menyelesaikan pendidikan Pasca Sarjana di Universitas Negeri Padang. Foto cerita ‘Pacu Itik’ menjadi bagian dalam Workshop Visual Storytelling yang diadakan oleh Sore Rabu Project x PAGU!, 3-10 Mei 2017.

 

 

 

 

 

 

 



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright Sore Rabu Project