Kenduri Yang Dirindu (Zulkifli)

Menggelar Kenduri Sko adalah sebuah prestise tersendiri bagi satu kampung. Wajah setiap orang di kampung memuncratkan kebanggaan ketika Kenduri Sko berlangsung. Pedang-pedang dikeluarkan untuk dimainkan oleh para pria. Jalan setapak di tengah kampung menjadi panggung perempuan-perempuan untuk menari. Ritual-ritual purba dilakukan. Pada puncaknya, penobatan pemangku adat yang baru. Kenduri itu terjadi empat puluh enam tahun yang lalu. Begitu yang saya dengar dari orang-orang di kampung.

Ibu, yang lahir dan besar di desa ini, tak pernah bercerita kepada saya perihal ritual adat yang dilihatnya saat ia berusia dua belas tahun. Bisa jadi ia tak terlalu ingat, atau ia tak ingin membuncahkan kerinduannya pada prosesi yang dilihatnya berulang-ulang di kampung lain, bukan di halaman rumahnya sendiri. Tetangga dan warga lain pun demikian pula. Mereka acap diundang untuk hadir melihat Kenduri Sko di kampung tetangga yang hanya berbatas dinding sekolah dasar tanpa pernah menjadi tuan rumah dari kenduri adat itu.

Pada 2013 lalu, Kenduri Sko kembali diadakan di Desa Koto Renah, Kerinci. Rindu pada kenduri ini lunas sudah. Seperti Ibu, saya larut dalam suka cita yang entah berapa puluh tahun lagi akan bersua.

 

Foto dan teks : Zulkifli

Zulkifli seorang fotografer dokumenter yang berbasis di Pulau Sumatra. Ia juga penulis lepas untuk beberapa majalah perjalanan di Indonesia. Kenduri Yang Dirindu ini adalah cerita tentang ritual adat di tanah kelahirannya.

 

 

 



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright Sore Rabu Project