Jawa Lunto (Ramadhani)

 

Tidak ada Sawahlunto sebelum batubara ditemukan di perut bukit-bukit sepanjang sungai Lunto. Begitu kata sejarawan. Di lembah yang serupa kuali itu kemudian peradaban mulai dibentuk.

Penambangan batubara yang besar memakan banyak tenaga kerja. Jumlah pekerja yang tak cukup membuat orang-orang didatangkan dari luar. Tahanan kompeni didatangkan. Poster-poster lowongan kerja sebagai penambang di pajang hingga ke Malaka. Ribuan orang dengan ragam latar budaya mendarat di Sawahlunto. Sebagian pekerja paksa, sebagian lagi buruh kontrak.

Berbagai etnik yang dibawa sebagai buruh tambang akhirnya membentuk budaya multikultural yang menjadi Sawahlunto hari ini. Meski telah tercipta kebudayaan baru, tapi budaya Jawa begitu kental. Dari kesenian hingga corak berkehidupan. Budaya Jawa tidak lagi menjadi milik pemuda-pemuda Jawa saja. Di Sawahlunto kebudayaan ini lesap bersama manusia yang mendiaminya.

Hari ini, batubara tak seharum dulu di Sawahlunto. Namun, peradaban yang tumbuh dan berkembang di lembah ini tak bisa lepas dari jejak batubaranya.

 

Foto dan teks : Ramadhani

Ramadhani pewarta foto lepas yang berdomisili di Sumatera Barat. Foto cerita ‘Jawa Lunto’ ini adalah hasil dari Workshop Visual Storytelling yang diadakan oleh Sore Rabu Project x PAGU!, 3-10 Mei 2017.

 



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright Sore Rabu Project