Fotografi Kritis dan Omong Kosong

Setelah berulang kali membaca tulisan Yoppy Pieter berjudul Di Balik Si Buru Babi saya tidak bisa keluar dari kebingungan dan keterkejutan. Selain tidak menjawab satupun pertanyaan dalam kritik saya, respon itu berisi pleidoi yang mengecewakan.

Dari berbagai literatur tentang matrilineal, Yoppy telah sampai pada satu titik. Seperti yang dia tulis: penelitian yang ada saling kontradiksi dan belum ada kesimpulan. Benarkah begitu atau itu hanya asumsi Yoppy semata? Saya tidak akan membahas matrilineal itu dalam tulisan ini.

Bagaimana pun, Yoppy telah menarik kesimpulannya sendiri. Baginya matrilineal Minangkabau berdiri sebagai simbol.  Sampai di sini, naratif yang dibangun Yoppy dalam proyek foto jangka panjangnya, yang menegaskan buru babi sebagai politik identitas bagi pria untuk menegaskan maskulinitas mereka dalam dominasi matrilineal, telah runtuh dengan sendirinya. Yoppy membantah karyanya sendiri. Buru babi sengaja diciptakan sebagai politik identitas di tengah dominasi matrilineal, sedangkan matrilineal itu sendiri, seperti kata Yoppy hanyalah simbol.

Politik identitas, maskulinitas, matrilineal, hegemoni, patriarki dicampur aduk begitu saja. Inilah omong kosong pertama, sebagaimana saya jelaskan dalam tulisan sebelumnya.

Pada titik ini, duduk perkara kritik yang saya sampaikan sudah terang, setidaknya bagi saya sendiri. Sejatinya tulisan ini sudah selesai dan tidak ada lagi hal penting untuk ditulis. Namun, beberapa poin dari tulisan Yoppy, perlu juga dilihat.

Anjing

Dalam tulisannya, Yoppy menyebut buru babi sebagai tradisi tua yang terus diwariskan. Ada dua logika di sana, buru babi sebagai tradisi dan buru babi sebagai warisan. Pernyataan itu harusnya disertai penjelasan yang cukup. Terlebih dalam lingkup matriarkat, perihal warisan Minangkabau diatur dengan hukum yang ketat. Yoppy mengiringi pernyataannya dengan sejumlah pertanyaan. Yang jika diajukan dengan benar kepada orang yang tepat, seharusnya bisa memberinya gambaran jelas tentang buru babi. Di sinilah riset harusnya jadi penting, untuk menjawab pertanyaan yang banyak itu, bukan malah jadi asumsi semata.

Bagi Yoppy buru babi adalah sesuatu yang eksotik. Pandangan yang menurutnya tidak salah, selama itu dikritisi. Lalu, bagaimana cara mengkritisinya? Apakah dengan cara menghubungkannya dengan matrilineal atau dominasi perempuan?

“Hegemoni maskulinitas ini dikontruksi dalam imaji pemburu untuk melahirkan prestise.”

Saya memeras otak mencerna apa maksud kalimat ini. Jika memang ada, lalu apa kemungkinan kaitannya dengan matriarkat Minangkabau. Sampai saat ini saya tidak menemukan apa-apa, kecuali omong kosong belaka.

Marginal Man

Dalam tulisannya, Yoppy lagi-lagi membantah gagasan utama dalam foto Buru Babi karyanya sendiri. Yoppy mengaku tidak mengamini gagasan Zainal Arifin, meskipun pada bagian lain tulisannya dia mengakui telah mencatut karya sang dosen.

Yoppy tidak setuju dengan pandangan Zainal. Hal itu, kata dia, dilakukan dengan tidak menuliskan lelaki Minang dalam posisi termarginalkan. Ini memang terdengar sedikit lucu dan konyol. Tapi, siapa saja yang telah membaca jurnal Zainal Arifin akan paham apa yang saya maksud.  

Untuk mudahnya saya berikan analogi, semoga saja cocok. Begini analoginya:

“Andi tidak bisa disebut maling, karena dari sekian banyak benda yang dia curi, terdapat dua yang tidak dia ambil.” Analogi ini terlalu berbau omong kosong.

Yoppy dan Zainal

Jurnal karya Zainal Arifin menjadi pemicu bagi Yoppy untuk menggali lebih jauh dan merepresentasikan buru babi secara visual. Yoppy mengakui telah lalai mencatumkan Zainal sebagai sumber dalam narasi teks. “Walau pada akhirnya kami memiliki pandangan berbeda tentang buru babi,” kata Yoppy.

Yoppy mengakui kelalaiannya dengan tidak mencantumkan Zainal sebagai sumber dalam narasi teks. Itu patut diacungi jempol. Walau kata “lalai” sebenarnya tidak tepat untuk karya yang telah tiga kali dipublikasikan. Walau nama Zainal masih tidak tercantum dalam publikasi terbaru buru babi “Patuh di Rumah, Jantan di Hutan” di situs DestinAsian Indonesia bertanggal 5 September 2019. Walau tidak ada permintaan maaf secara publik pada Zainal sendiri.

“Walau pada akhirnya kami memiliki pandangan berbeda tentang buru babi,” kata Yoppy.

Saya membuka kembali jurnal Zainal dan mengamati lagi naratif buru babi Yoppy. Lantas pandangan yang mana lagi yang berbeda.

Bagi Yoppy, kelalaiannya adalah tidak menulis nama Zainal sebagai sumber dalam teksnya.  Bagi saya ini bukan soal kesamaan teks, tapi gagasan yang lahir sejak dalam pikiran. Yoppy menempelkan pikiran orang lain pada karyanya agar karya itu “seolah” memiliki bobot lebih. Bagus jika memang paham persoalannya. Jika tidak, semakin panjang bicara, semakin banyak lubang kosong yang menganga.

Tulisan Yoppy membuat saya sampai pada pertanyaan, apakah perbedaan fotografi kritis dan omong kosong?

Saya tidak mengerti apa dan bagaimana idealnya fotografi kritis itu. Saya hanya percaya, fotografi kritis ditujukan untuk memproduksi dan membaca fotografi dengan lebih baik, dan kejujuran menjadi salah satu akarnya.

Namun, jika fotografi kritis itu seperti praktik yang dilakukan Yoppy dalam buru babi, saya rasa memang sudah saatnya berpikir ulang tentang fotografi kritis itu.

 

Penulis : Ramadhani



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright Sore Rabu Project