Di Balik Si Buru Babi

Foto : Yoppy Pieter

 

*Tulisan ini bertujuan merespon tulisan Ramadhani di Klikpositif.com pada tanggal 03 September 2019 dengan judul Pikiran-Pikiran Pincang Naratif Buru Babi Yoppy Pieter

Ketertarikan saya dengan berbagai fenomena dalam ruang matrilineal Minangkabau dimulai sejak pertama kali membuat proyek Saujana Sumpu pada tahun 2013 dan mengarahkan saya pada pertanyaan “Seberapa berkuasanya perempuan dalam kehidupan matrilineal Minangkabau?”

Pemaparan yang ditawarkan ahli beragam dalam beberapa literatur, seperti Rajab (1969), Koentjaraningrat (1983), Kato (1982), dan Heider (1997) mengatakan bahwa sistem matrilineal Minangkabau, walaupun garis keturunan berdasarkan perempuan tetapi yang berkuasa adalah laki- laki, laki-laki bertindak sebagai pemimpin kaumnya dan menjadi wakil kaum dalam masyarakat Nagari atau masyarakat yang lebih luas. Di sisi lain, Peggy Reeves Sanday (1998) berpendapat bahwa perempuan memiliki posisi lebih dan Ninik Mamak tetap menganggap ibunya sebagai orang yang penting untuk dimintai pendapat sebelum ia mengambil keputusan.

Jelas terlihat bahwa penelitian-penelitian yang ada saling kontradiksi dan belum ada kesimpulan. Inilah yang mendorong saya untuk melihat secara langsung melalui medium fotografi.

Hingga pada akhirnya saya melihat bahwa matrilineal Minangkabau berdiri sebagai simbol; bahwa perempuan tidak benar-benar memiliki posisi tertinggi, terlebih pada praktiknya ideologi patriarki mendominasi dan tumbuh subur. Walau antara laki-laki dan perempuan memiliki kekuasaan atas kapitalnya masing-masing.

Nilai Lain Terhadap Anjing

Dalam tulisannya Rama menulis “[…] anjing memang tidak pernah memiliki posisi khusus dalam narasi kebudayaan Minang, tidak seperti kerbau dan kuda”. Kemudian ia mempertegas “[…] semahal apapun harganya, anjing tetaplah anjing yang dipandang natural dan obyektif sebagai anjing.”

Saya tidak menampik bahwa awalnya saya tertarik dengan isu ini karena melihat tradisi buru babi sebagai sesuatu yang eksotis. Sebagai fotografer, secara naluri telah memiliki imaji di kepala. Apa itu salah? Bukankah kita secara tidak sadar kerap berada dalam euforia ini bahkan dalam keseharian? Namun, yang terpenting adalah bagaimana kita memperlakukannya dan apakah kita mau mengkritisinya atau tidak.

Saya selalu percaya bahwa suatu peristiwa lahir karena respon atas beberapa hal dan tidak lahir begitu saja. “Tak ada asap kalau tak ada api,” begitu pepatah bilang.

Jika memang anjing tidak memiliki posisi khusus dalam narasi kebudayaan Minang, mengapa dalam keseharian tradisi buru babi penggunaan anjing terus diwariskan, dan sebagian orang percaya bahwa tradisi ini ada sebelum Islam menyentuh ranah Minang.

Di sini saya mulai bertanya, berarti ada nilai lain terhadap anjing yang mungkin sengaja dipendam atau mungkin tidak dimasukkan ke dalam narasi kebudayaan dengan alasan tertentu atau memang tidak disadari adanya? 

Dalam arena perburuan pun saya mendengar idiom bahwa laki-laki jauh lebih menyayangi anjing ketimbang anak mereka. Bisnis online serta offline perdagangan anjing marak dan didatangkan dari tanah Jawa, ada permintaan yang besar dari tanah Minang, bahkan penipuan dalam bisnis ini sudah menjadi lumrah.

Saya menyambangi arena pelatihan anjing, tempat penjualan anjing, hingga ikut berburu menyusuri sawah, rawa, bukit, dan hutan. Tradisi buru babi rupanya sebuah ajang olahraga di bawah PORBI (Persatuan Olahraga Buru Babi).

Saya terus bertanya-tanya, bagaimana tradisi tua ini berevolusi dari kegiatan menghalau hama babi menjadi tradisi yang diikuti oleh banyak kalangan dengan ragam kelas dan usia, kaya dan miskin, tua dan muda, bahkan anak-anak kecil kerap berada di antaranya.

Jumlah peserta dalam perburuan pun terbilang masif, dilakukan 2-3 kali dalam satu minggu, titik-titik kumpul pemburu sebelum ke lokasi perburuan tersebar di tepi jalan. Kendaraan berlalu lalang diiringi suara gonggongan anjing dari balik kandang. Yang mengerikan ada resiko kecelakaan dan kematian yang membayangi.

Sebetulnya, jika ingin praktis, senjata api bisa digunakan untuk berburu. Mengapa harus menggunakan anjing? Mengapa bangkai babi dibiarkan, tidak dijual, tidak dikonsumsi? Jika anjing dipandang natural dan obyektif sebagai anjing, apakah otomatis nilai fungsinya hilang?

Dari hasil riset yang saya lakukan, baik melalui literatur dan observasi lapangan lewat pembicaraan dan diskusi secara informal dengan beberapa pemburu babi, saya justru melihat maskulinitas hanya bergerak dalam koridor yang merepresentasikan tentang hal yang jantan, berani, dan menantang kematian.

Simbol-simbol maskulinitas lainnya muncul secara visual di mana anjing-anjing yang berlumuran darah sebagai representasi sifat agresif. Mampu membeli anjing dengan harga ratusan juta sebagai simbol unggul. Hegemoni maskulinitas ini dikonstruksi dalam imaji pemburu untuk melahirkan prestise.

Saya bisa memahami apa yang Rama paparkan dalam tulisannya. Rama melihat kemiripan antara narasi saya dan jurnal Zainal Arifin, seakan saya sedang memvisualkan semua paparan dalam jurnalnya. Bahwa buru babi sebagai medium yang diduga kuat dipolitisasi laki-laki karena mereka dalam posisi marginal man. Tujuannya agar posisi laki-laki lebih “seimbang” dengan posisi perempuan.

Namun, bukan itu realitas yang saya lihat. Bahkan saya tidak mengamininya dengan tidak menuliskan laki-laki dalam posisi termarginalkan. Mengapa? Karena saya masih berpegang pada definisi matrilineal Minangkabau yang saya pahami.

Lalu, Bagaimana dengan Isu Plagiarisme?

Kesamaan ide memang kerap terjadi dan sah-sah saja di dalam proses pengkaryaan karena apa yang kita baca, kita tonton, kerap mempengaruhi kita dalam berkarya. Saya pribadi mengakui jurnal Zainal Arifin yang saya baca menjadi salah satu trigger rasa keingintahuan saya untuk menggali lebih jauh dan merepresentasikannya secara visual.

Melihat permasalahan ini saya kembali membaca ulang dengan seksama bahwa memang ada kelalaian saya sebagai seorang manusia ketika mencantumkannya menjadi bagian dalam narasi teks tanpa menyebutkan sumbernya, mengutipnya tanpa menyertakan sumber asal. Walau pada akhirnya kami memiliki pandangan yang berbeda tentang buru babi.

Namun, tidak pernah terlintas sedikit pun untuk melakukan plagiarisme. Karena dalam proses kreatif, mengkaji pandangan dari berbagai sumber adalah etika bekerja yang bertujuan untuk melihat kelebihan dan kekurangan atas apa yang tertera di dalamnya sekaligus melihat kekurangan saya.

Saya tentu akan berbesar hati untuk melakukan revisi pada teks pendamping atas apa yang terkandung di dalamnya serta langkah profesional kedepannya.

Buru babi sebagai ongoing project yang belum rampung dalam proses kreatifnya tentu akan mengalami evolusi dalam ranah riset, konsep, konten, dan juga pendekatan visual. Tentu kritik dari Rama juga memiliki porsi di dalamnya.

Semuanya bertujuan dalam mendukung persepsi yang sementara ini saya usung dan masih terus berkembang dan tumbuh hingga proyek ini benar-benar selesai. Bahkan tidak menutup kemungkinan bagi saya untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak baik antropolog, sejarawan, atau seniman di luar ranah fotografi.

Saya dan Rama adalah teman baik. Jika ada pihak menilai ini sebagai usaha menjatuhkan saya justru akan menjadi bahan lelucon sekaligus bukti bahwa kita masih belum cukup dewasa untuk melihat kritik, bukan personal orang tersebut. Hadirnya kritik dalam ranah publik di dalam iklim fotografi Indonesia yang kerap mengagungkan pujian adalah angin segar agar dia terus tumbuh dan besar. Terima kasih atas kesabarannya menunggu tulisan ini.

 

Penulis : Yoppy Pieter



1 thought on “Di Balik Si Buru Babi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright Sore Rabu Project